MB IPB Repository

Formulasi Strategi Peningkatan Nilai Tambah dan Pengembangan Usaha Komoditi Rumput Laut di Kecamatan Singkep Kabupaten Kepulauan Riau

Aidil, Syafitri (2002) Formulasi Strategi Peningkatan Nilai Tambah dan Pengembangan Usaha Komoditi Rumput Laut di Kecamatan Singkep Kabupaten Kepulauan Riau. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
Download (363Kb) | Preview
    [img]
    Preview
    PDF
    Download (255Kb) | Preview
      [img]
      Preview
      PDF
      Download (415Kb) | Preview
        [img]
        Preview
        PDF
        Download (339Kb) | Preview
          [img]
          Preview
          PDF
          Download (492Kb) | Preview
            [img] PDF
            Restricted to Repository staff only

            Download (1847Kb)
              [img] PDF
              Restricted to Repository staff only

              Download (1477Kb)
                [img] PDF
                Restricted to Repository staff only

                Download (1038Kb)
                  [img] PDF
                  Restricted to Repository staff only

                  Download (443Kb)
                    [img] PDF
                    Restricted to Repository staff only

                    Download (426Kb)
                      [img] PDF
                      Restricted to Repository staff only

                      Download (448Kb)
                        [img] PDF
                        Restricted to Repository staff only

                        Download (452Kb)
                          [img] PDF
                          Restricted to Repository staff only

                          Download (1461Kb)

                            Abstract

                            Aidil Syafitri. 2002. Formulasi Strategi Peningkatan Nilai Tambah dan Pengembangan Usaha Komoditi Rumput Laut di Kecamatan Singkep Kabupaten Kepulauan Riau. Di bawah bimbingan E. Gumbira Said dan Kirbrandoko Kecamatan Singkep merupakan wilayah keja Pembantu Kabupaten Wilayah III Singkep, Daerah Tingkat II Kepulauan Riau Provinsi Riau. Luas daerah berkisar 829.000 km2, terdiri dari 82 buah pulau besar dan kecil. Wilayahnya merupakan dataran rendah terutama di kawasan pantai dengan ketinggian 2 - 5 m dari permukaan laut serta dikelilingi oleh lembah dan bukit. Disektor perikanan, Kecamatan Singkep memiliki prospek cerah di bidang budidaya dan pengembangan usaha komoditi rumput laut. Dari 1.500 Ha luas lahan budidaya rumput laut di Provinsi Riau, 500 Ha berada di Kecamatan Singkep, terutama di Dusun Plakak Desa Kote. Daerah ini memenuhi syarat teknis budidaya rumput laut karena berada pada teluk yang terlindung dari pengaruh ombak dan gelombang oleh beberapa buah pulau. Topografi dasar perairan landai dengan substrat berkarang dan berpasir, arus yang tidak terlalu deras berkisar 4 - 25 cm/dtk, kedalaman 2 - 7 meter, kecerahan 2,5 - 3,5 meter, salinitas 31 permil dan kandungan oksigen 5,2 ppm. Selain itu, perairan di Desa Kote juga tidak dilalui oleh jalur pelayaran transportasi laut serta jauh dari aliran sungai dan usaha penambangan pasir yang banyak terdapat di Kecamatan Singkep. Beberapa jenis rumput laut di Kepulauan Riau seperti Eucheuma cottonii, Eucheuma edule, Eucheuma spinosum, Gracilaria sp dan Gelidium sp bernilai ekonomis. Tetapi, pemanfaatan komoditi tersebut umumnya terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan belum dtekankan pada kandungan kimiawinya seperti agar-agar, alginat dan karaginan. Peningkatan usaha rumput laut akan lebih bermakna jika dilakukan upaya lebih untuk memberikan nilai tarnbah pada komoditi tersebut. Rumput laut mempunyai potensi besar untuk dikembangkan karena mempunyai banyak kandungan gizi bermanfaat seperti protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, abu, mineral yang terdiri dari Ca, Fe, Cu dan Pb, vitamin yang meliputi vitamin B1, B2 dan C serta karaginan dan agar. Rumput laut juga digunakan diberbagai sektor industri sebagai bahan baku untuk industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, keramik, fotografi dan insektisida. Selain potensial dalam hal luas lahan dan sumberdaya rumput laut bernilai ekonomis, kegiatan usaha rumput laut di Kecamatan Singkep, Kabupaten Kepulauan Riau juga mempunyai prospek yang baik dari segi pemasaran karena letak strategis Kabupaten Kepulauan Riau yang berdekatan dengan Singapura, Malaysia serta dengan beberapa negara ASEAN lainnya, selain berada pada lintasan jalur pelayaran dan perdagangan intemasional, mulai dari Selat Malaka sampai pada Laut Cina Selatan. Besarnya potensi mmput laut di Kepulauan Riau dapat diketahui dari produksi rumput laut yang cenderung meningkat. Pada tahun 1998 produksi rumput laut Riau sebesar 197.500 ton, tahun 1999 meningkat menjadi 237.600 ton dan pada tahun 2000 sebesar 1.173.500 ton. Sebagian besar produksi tersebut diekspor dalam bentuk bahan mentah seperti ke Denmark, Belgia, Jepang dan Belanda, sedangkan selebihnya dijual antar pulau dan dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari, terutama oleh masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Seiring dengan pertambahan penduduk dunia yang terus meningkat, diperkirakan kebutuhan rumput laut, baik sebagai bahan baku maupun produk olahan akan meningkat pula karena banyak digunakan di berbagai sektor kehidupan. Untuk meenuhi kebutuhan tersebut, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan nilai tambah dan pengembangan usaha komoditi rumput laut. Permasalahannya, peningkatan nilai tambah dan pengembangan usaha komoditi rumput laut terbentur pada keterbatasan yang dimiliki oleh petanilnelayan dalam ha1 permodalan usaha, kurangnya informasi dan akses pasar, kurangnya sarana dan prasarana yang ada serta kurangnya penguasaan teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan untuk memberikan nilai tambah pada konioditi tersebut. Kondisi tersebut menyebabkan petanitnelayan cenderung menjual komoditi rumput laut mereka dalam bentuk mentah, akibatnya nilai jual yang diperoleh tidak memuaskan. Di Kecamatan Singkep, harga jual rumput laut sebagai bahan menah adalah Rp. 200kg basah, sedangkan untuk rumput laut kering berkisar Rp. 2.000 - 2.500kg. Mengingat besamya manfaat rumput laut di berbagai sektor kehidupan, kebutuhan rumput laut sebagai bahan mentah dan produk olahan yang terus meningkat, maka kebijakan pemerintah di sektor pembangunan perikanan perlu ditingkatkan agar lebih terarah sehubungan dengan peningkatan nilai tambah dan pengembangan usaha hasil-hasil perikanan, dalam ha1 ini khususnya komoditi rumput laut. Upaya peningkatan nilai tambah dan pengembangan usaha komoditi rumput laut dipengaruhi oleh berbagai aspek meliputi aspek sumberdaya manusia, sumberdaya modal, sumberdaya alam, sumberdaya lahan, teknologi, informasi, kelembagaan serta aspek kebijakan maupun peraturan yang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan langkah-langkah menghltung dan menganalisa besarnya nilai tambah yang akan dihasilkan dari pengolahan lanjut rumput laut. Selain itu juga bertujuan untuk merekomendasikan strategi yang tepat dalam meningkatkan nilai tambah komoditi rumput laut dan dalam upaya pengembangan usahanya. Analisis matrik IFE dan EFE bertujuan untuk memantau lingkungan internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi Dinas elautan dan Perikanan dalam mencapai tujuan. Berdasarkan evaluasi matrik IFE dan EFE diperoleh bobot dari masing-masing faktor ekstemal dan internal adalah sebagai berikut. Nilai skor untuk faktor internal yang mempakan kekuatan meliputi: tersedia sumberdaya rumut laut bernilai ekonomis (0,063), tersedia sumberdaya lahan potensial (0,060), tersedia sumberdaya petanilnelayan tumput laut (0,064), keberadaan sumberdaya aparat DKP sebagai pembina (0.048), program kerja DKP yang mendukung (0,050), teknologi penanganan pasca panen yang sederhana (0.064), teknik budidaya yang dikuasai oleh petani (0,047), keberadaan koperasi rumput laut (0,057). Nilai bobot untuk faktor kelemahan terdiri dari terbatasnya modal usaha petanilnelayan rumput laut (0,067), penguasaan teknologi tepat guna kurang (0,063), sarana prasarana produksi dan pemasaran yang belum memadai (0,063), koordinasi antar lembaga terkait lemah (0,044), kemampuan manajerial petani kurang (0,059), rumput laut dijual dalam bentuk mentah/raw material (0,046), infomasi dan akses pasar terbatas (0,056), kerjasama petani/nelayan dengan pengusahaleksportir masih lemah (0,057), posisi tawar petanilnelayan rendah (0,050), kebiasaan petanilnelayan menikmati langsung hasil ke j a dengan menjual langsung rumput laut yang baru dipanen (0,043). Total nilai factor intemal adalah 2,601. Nilai tersebut berada sedikit di atas rata-rata(2,5), berarti secara internal posisi organisasi agak kuat dalam memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang ada dan selalu berupaya untuk mengatasi kelemahan dari lingkungan internal. Nilai bobot untuk faktor ekstemal yang merupakan peluang meliputi: kebijakan pemda disektor pembangunan perikanan (0,064), membuka kesempatan kerja dan berusaha (0,082), perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan transportasi yang menunjang (0,068), letak geografis Kepulauan Riau yang strategis (0,066), tejalinnya kemitraan yang saling menguntungkan (0,083), pemberdayaan kaum wanita (0,077), terbukanya pasar bebas AFTA 2003 (0,066), banyaknya produk turunan/derivatif dari rumput laut (0,077). Nilai bobot untuk faktor ancaman meliputi: pasar bebas menuntut standar mutu yang lebih tinggi(0,072), persaingan merebut pangsa pasar (0,071), kondisi politik dan keamanan yang belum stabil (0,048), biaya transportasi tinggi (0,059), pencemaran lingkungan (0,056), serangan hama dan penyakit (0,059), masuknya produk impor (0,053). Total nilai faktor ekstemal adalah 2,712. Nilai tersebut berada di atas rata-rata yang telah ditetapkan (2,5), berarti secara ekstemal posisi organisasi cukup kuat dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada dan mengatasi pengaruh negatif dari ancaman eksternal. Faktor intemal dan eksternal yang telah ditetapkan, kemudian disusun dalam bentuk matriks SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats), untuk menentukan altematif strategi yang dapat dikembangkan &lam upaya peningkatan nilai tambah dan pengembangan usaha komoditi rumput laut. Berdasarkan rumusan strategi yang didapat dari matriks SWOT, dibuat empat set altematif strategi yang meliputi: (1) Pengolahan komoditi rurnput laut menjadi berbagai produk olahan dengan mutu te jamin dan jumlah memadai, (2) Menjalin kerjasarna kemitraan yang jujur, transparan dan saling menguntungkan antara petadkelompok tanikoperasi rumput laut dengan pengusaha/eksportir rumput laut, (3) Mengefektifkan peran Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai lembaga pembina, lembaga-lembaga terkait lain dan Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dalam upaya pembinaan dan pengembangan SDM, (4) Melakukan penertiban izin usaha dan melakukan penyusunan tata ruang budidaya rumput laut yang serasi dalam menciptakan iklim berusaha yang kondusif serta dalam pelestarian dan konservasi lingkungan. Dari hasil perhitungan analisis nilai tambah komoditi rumput laut menjadi dodol, diperkirakan untuk setiap kilogram rumput laut kering akan dihasilkan output berupa perkiraan nilai tambah sebesar Rp. 140.000, rasio nilai tambah dodol rumput laut sebesar 56%, imbalan bagi tenaga kerja Rp 40.000 serta imbalan bagi modal dan manajemen Rp. 100.000. Pada pembuatan cendol rumput laut, diperkirakan akan diraih nilai tambah sebesar Rp. 127.500, rasio nilai tambah cendol 63,37%, imbalan bagi tenaga kerja Rp. 20.000, serta imbalan bagi modal dan manajemen Rp. 107.500. Untuk pembuatan manisan rumput laut, diperkirakan diraih nilai tambah sebesar Rp. 115.500, rasio dlai tambah cendol 72,19%, imbalan bagi tenaga kerja Rp. 10.000 serta imbalan bagi modal dan manajemen Rp. 105.500. Untuk puding rumput laut, diraih nilai tambah sebesar Rp. 340.500, rasio nilai tambah puding 85,12%, imbalan bag tenaga keja Rp. 30.000 serta imbalan bagi modal dan manajemen Rp. 310.500. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, disimpulkan bahwa setiap tahapan pengolahan lanjut komoditi rumput laut menjadi berbagai produk olahan, akan selalu memberikan manfaat dan keuntungan lebih. Dan empat strategi yang dikembangkan, untuk menentukan strategi prioritas, dilakukan analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Berdasarkan analisis QSPM, penentuan prioritas strategi ditentukan oleh total daya tariklTotul Aftructiveness Score (TAS) dari suatu strategi dikalikan dengan bobot yang telah diperoleh dari matrik IFE dan EFE. Hasil TAS dari empat strategi di atas adalah: 6.170 untuk strategi 1,6.359 untuk strategi 11, 5.829 untuk strategi 111 dan 4.059 untuk strategi IV. Berdasarkan nilai TAS, maka prioritas strategi yang perlu dikembangkan adalah menjalin kerjasama kemitraan yang jujur, transparan dan saling menguntungkan antara petanikelompok tani/koperasi rumput laut dengan pengusaha/eksportir rumput laut. Penentuan prioritas tersebut hanya merupakan penentuan urutan dari strategi yang akan dikembangkan dan strategi lain juga perlu dilaksanakan untuk mendukung strategi prioritas. Didasarkan pada strategi prioritas, direkomendasikan strategi peningkatan nilai tambah dan pengembangan usaha komoditi rumput laut melalui Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) yang melibatkan industri pengolahanleksportir rumput laut dan petani kelompok tani koperasi serta pihak bank sebagai pemberi kredit. Dalam Proyek Kemitraan Terpadu, industri pengolahan atau eksportir rumput laut bertindak sebagai inti, sedangkan petani kelompok tani/koperasi sebagai plasma. Kejasama tersebut diikat dalarn suatu pejanjian atau kesepakatan tertulis yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak. Tujuan PKT adalah untuk nleningkatkan kelayakan usaha plasma, meningkatkan keterkaitan dan kejasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma serta membantu bank dalam meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien. Dengan demikian, diharapkan implementasi dari rekomendasi strategi di atas, akan meniadi jalan keluar terbaik bagi petani/nelayan rumput laut, khususnya di kecamatan Singkep dalam mengatasi pennasalahan yang dihadapi selama ini.

                            Item Type: Thesis or Disertation (Masters)
                            Uncontrolled Keywords: Rumput laut, Kecamatan Singkep, Nilai Tambah, Strategi Pengembangan Usaha, Data Primer dan Sekunder, Petanilnelayan Rumput Laut, Matrik IFE dan EFE, Metode Hayami, Analisis SWOT, Analisis QSPM
                            Subjects: Manajemen Strategi
                            Divisions: Graduate Program of Management and Business > Perpustakaan
                            Depositing User: Staff-7 Perpustakaan
                            Date Deposited: 12 Jan 2012 16:24
                            Last Modified: 07 Feb 2012 14:29
                            URI: http://repository.mb.ipb.ac.id/id/eprint/1158

                            Actions (login required)

                            View Item